MENGAJAK KEMBALI KEPADA ALQURAN DAN SUNNAH BUKAN BERARTI MENINGGALKAN ULAMA

MENGAJAK KEMBALI KEPADA ALQURAN DAN SUNNAH BUKAN BERARTI MENINGGALKAN ULAMA

Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab.

Dan ini bukan bentuk ijtihad mutlak, anggapan keliru bahwa seruan kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah dianggap sebagai mujtahid mutlak dan meninggalkan ulama.

Bedanya ahlul bidah dengan ahlussunnah

Ahlussunnah dalil dahulu baru difahami dengan perkataan ulama

Adapun ahlul bidah perkataan ulama dulu baru dicarikan dalilnya serta dicocok cocokkan.

Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

“Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” [Majmu’ah Al-Fatawa, 22/249]

TAQLID BOLEH TAPI HARUS BENAR DAN TAQLID BUKAN PRINSIP ISLAM

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“Jika ada yang mengatakan : wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.”

[Majmu’ah Al-Fatawa, 22/ 249]

 

bagikan tautan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*




Enter Captcha Here :